Rapat Koordinasi BNPB Terkait DAS Batanghari

Jakarta, Selasa.12/11/2019

Menindaklanjuti kunjungan Kepala Badan Penanggulangan Bencanan Nasional ke Kabupaten Dhamasraya dan Sijunjung melihat langsung kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh penambangan emas liar dengan menggunakan merkuri yang berdampak langsung kepada kesehatan dan lingkungan. Hari ini di Badan Penanggulanagan Bencana Nasional jakarta tanggal 12 November 2019 mengadakan Rapat Koordinasi Kerusakan Ekosistem akibat Penambangan di Sungai batanghari bersama bapak Doni Munardo beserta Wakil Gubernur Sumatera Barat, Gubernur Jambi beserta Bupati dari Kabupaten yang dilewati oleh Sungai Batang hari.

Wakil Gubernur Sumatera Barat H. Nasrul Abit mengatakan Kerusakan lingkungan akibat penambangan liar dan penggunaan merkuri yang sangat merusak lingkungan dan berdampak pada kesehatan pada masyarakat bukan hanya pada air tanah namun hingga ke sayur sayuran serta buah buahan yang terpapar oleh merkuri yang sangat berbahaya Apabila msuk kedalam tubuh akan mengakibatkan kerusakan pada tubuh.

Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama untuk berkomitmen untuk mengatasi pencemaran yang diakibatkan oleh pencemaran lingkungan oleh penambangan liar dan penggunaan merkuri. Karena kerusakan yang diakibatkan berefek jangka panjang untuk keberlanjutan ekositem lingkungan dan sangat sulit dipulihkan, butuh usaha yang sangat keras dan kerjasama dari seluruh unsur masyarakat dan pemerintah, tambah Nasrul Abit.

Sungai Batanghari yang sejuk dan jernih seperti sepuluh tahun silam bukan tidak mungkin bakal kembali hadir di Dharmasraya dan delapan kabupaten dan kota yang dilintasinya. Pasalnya, pemerintahan pusat, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) merespon upaya Bupati Dharmasraya yang tengah giat mencari solusi kerusakan sungai terbesar di Kabupaten Dharmasraya dan meilntasi delapan kabupaten dan kota di Sumatera.

Niat Bupati itu untuk memulihkan sungai Batanghari menjadi jernih, sejuk dan indah, lantaran sungai yang berhulu di Danau Diatas dan Danau Dibawah itu sejak abad 12 yang lalu, telah menjadi saksi sejarah emas Dharmasraya, yang kala itu menjadi ibukota Kerajaan Malayu Pura. Saat itu, sungai Batanghari menjadi sarana transportasi, menjadi sarana lalulintas perdagangan, menjadi sumber protein hewani ikan, menjadi sarana perhubungan antar daerah, menjadi sumber kehidupan rakyat dan lain sebagainya.

Kini, sejak dasawarsa belakangan, sungai Batanghari justeru menjadi ancaman kehidupan bagi rakyat Kabupaten Dharmasraya. Pasalnya, menurut hasil penelitian para ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan hasil pengamanatan petugas teknis lingkungan hidup, sungai Batanghari mengandung cemaran logam berbahaya, yaitu air raksa atawa mercury atawa hygragyrum (Hg). Akibatnya, sungai Batanghari menjadi sangat berbahaya bagi anak anak dan manusia, karena bisa menjadi sumber malapetaka bagi kehidupannya.

Selain itu, sungai Batanghari tidak bisa lagi dijadikan sumber protein ikan, lantaran ikan yang ada di Sungai Batanghari mengandung air raksa. Jika ikan dikonsumsi manusia, maka residu  air raksa pada ikan akan berpindah ke manusia. “Ini bisa mengakibatkan stunting pada anak anak yang hidup di DAS Batanghari,”

Terkait kerusakan sungai Batanghari yang kian parah, Bupati Sutan Riska sudah mengundang dua jenderal Presiden Jokowi, yaitu Jenderal TNI (Purn) Moeldoko (Kepala Staf Kepresdenan) dan Letjen TNI Doni Monardo (Kepala BNPB) untuk menyaksikan langsung kondisi terakhir DAS Batanghari. Selain itu juga untuk menyaksikan bagaimana Pemkab Dharmasraya berusaha membangun kembali lingkungan hidup yang rusak dengan berbagai cara. (Ef PHB)

Post Author: Efriyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *